Fri. May 24th, 2024
Selamat Idul Fitri

Idul fitri sebagai momentum merayakan “kemenangan” religi atas sebuah perjuangan salama kurang lebih satu bulan penuh. Perjuangan tersebut dikenal dengan “Puasa Ramadhan,” puasa yang secara khusus Allah perintahkan melalui kalam-Nya (QS. Al-Baqarah: 183) sebagai kewajiban seorang mukmin untuk menggapai maqam takwa. Puasa Ramadhan dalam konteks sufistik bisa menjadi bentuk riyadhah kepada Allah dalam mengontrol hawa nafsunya sehingga terus dalam jalan ketaatan, selain itu juga bisa sebagai mujahadah kepada-Nya, dengan berpuasa manusia diedukasi untuk bagaimana jiwanya disiplin dan menjaga dari segala hal-hal negatif.

Edukasi tersebut memberikan pengalaman yang mulai yang tantangannya ialah bagaimana itu bisa terus berlanjut pasca puasa Ramadhan. Oleh sebab itu, puasa Ramadhan harus dijadikan sebagai proses pembelajaran jiwa untuk senantiasa mengosongkan batin dari hal yang tercela, sehingga di saat menemui Idul Fitri secara hakikat bisa memperoleh derajat “suci”. Idul fitri tidak hanya dipahami sebagai perayaan “materialistik” dengan mengumbar apa yang dipunyai, namun sebagai makna syukur bahwa secara “administratif” kita lulus, namun secara kualitas belum tentu. Kualitas dimaknai sebagai dampak dari puasa yang telah dilakukan tersebut, khususnya saat Idul Fitri yang dijadikan sebagai “pertanda” puasa telah berakhir. Kualitas puasa bisa dilihat dari output yang dihasilkan yakni menuju “takwa” sebagai penutup ayat 183 (la’allakum tattaqun).

Idul fitri dalam pandangan sufistik menjadi sebuah hari bahagia di mana manusia yang berpuasa menjadi kembali fitri; suci kembali “dalam bahasa lain” terbebas dari noda dosa ditambah dengan saling memberi maaf satu sama lain. Kesucian yang diberikan Allah tersebut harus dijaga sebaik mungkin agar tidak menjadi kotor. Guna bisa menjaga agar tidak kotor ialah bagaimana hakikat puasa yang kemarin dilakukan diberlakukan terus secara kontinu sehingga menjadi sebuah karakter. Hakikat puasa ialah menahan dari segala apapun yang mendatangkan kerugian puasa itu sendiri baik pahalanya maupun status puasanya, selain itu rasa taat kepada Allah yang begitu melejit. Sikap mampu menahan dan istikamah dalam ketaatan menjadi kunci sukses dalam merawat kesucian pasca puasa, shingga output puasa benar-benar sampai kepada maqam takwa.

Hubungan perayaan Idul Fitri dengan sikap manahan dan taat ialah tidak merasa lebih dari yang lain, dan memandang yang lain dengan pandangan mulia, hal ini akan menutup celah untuk riya’; pamer dan ujub satu sama lain yang dapat merusak kesucian jiwa di hari raya Idul Fitri. Kemudian, tetap meningkatkan ketaatan di tengah kesibukan “halal bil halal” atau silaturahim, artinya kemeriahan dengan sanak saudara jangan sampai membuat lalai untuk melaksanakan shalat, membaca al-Qur’an dan berdhikir yang biasanya itu diamalkan di bulan suci Ramadhan.

Idul Fitri dalam persepktif tasawuf sejatinya menegaskan bahwa perayaan ini tidak bersifat materi, namun religi-moril. Oleh sebab itu, seyogyanya umat Islam menjadikannya sebagai proses muhasabah atas diri sendiri (agar tidak terjebak pada hawa nafsu pribadi) dan mu’awanah (untuk tetap menghargai sesama, mengasihi, mengayomi dan membantu). Dengan demikian, perayaan Idul Fitri dapat semakin bermakna dalam pembentukan karakter dan sikap baik secara vertikal maupun horizontal. Jangan sampai kerendahan hati di bulan puasa kemarin menjadi pudar di tengah perayaan Idul Fitri yang saling memamerkan materi tanpa makna yang jelas, sehingga terjadi “kemunafikan” ruhaniah. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi sumber pengetahuan yang baik dalam rangka memperbaiki budi dan hati.

Surabaya, 19 April 2023

Penulis:

Dr. Muhamad Basyrul Muvid, S.Pd.I., M.Pd.
(Dosen Universitas Dinamika Surabaya)

Editor: Alaika M Bagus Kurnia PS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *