Fri. May 24th, 2024
sewu ketupat

sewu ketupat

Tradisi Syawalan atau disebut juga lebaran ketupat adalah lebaran kedua bagi masyarakat Jawa tepatnya sepekan setelah lebaran Idulfitri. Masyarakat Jawa sampai dengan saat ini masih melestarikan tradisi  yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kala itu, tradisi yang menyajikan  hidangan berupa ketupat lengkap  dengan sayur dan  sambal goreng.

Tradisi Sewu Kupat merupakan salah satu Tradisi Syawalan yang ada di Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah. Tradisi yang berupa parade atau arak-arakan ketupat dari Makam Sunan Muria di Desa Colo menuju Taman Ria Colo, Kudus, Jawa Tengah. Sebelum diarak, gunungan ketupat itu terlebih dahulu didoakan oleh sesepuh dan ulama di makam Sunan Muria, Kudus, Jawa Tengah. Gunungan dibawa turun ke bawah bersama gunungan lain yang telah disiapkan dan diarak menuju panggung utama di Taman Ria Colo. Prosesi parade Sewu Kupat diawali dengan ziarah ke makam Sunan Muria, dilanjutkan dengan minum air dan cuci kaki serta tangan dengan air dari gentong peninggalan Sunan Muria. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan visualisasi dari perjalanan kirab Kanjeng Sunan Muria dengan mengarak 18 gunungan yang terbuat dari ketupat dan hasil panen 18 desa di Kecamatan Dawe (wilayah Gunung Muria) dari makam Sunan Muria menuju Taman Ria Colo. Prosesi semakin meriah saat ribuan warga berebut ketupat dan hasil bumi dari 18 gunungan yang diarak.

Parade Sewu Kupat merupakan wujud akulturasi budaya yang dilestarikan di Kabupaten Kudus hingga sekarang. Angka sewu (seribu) pada tradisi Sewu Kupat memiliki makna simbolis atas banyaknya peran masyarakat dan kolaborasi pemerintah dalam mengangkat kearifan lokal dan sejarah religi di Kabupaten Kudus. Sebuah parade yang berhasil memadukan unsur seni budaya dan nilai-nilai keislaman di Kabupaten Kudus. Dalam bahawa Jawa, ketupat yang berasal dari kata ‘Ngaku Lepat’. Ngaku Lepat artinya mengakui kesalahan yang diwujudkan dalam tradisi sungkeman. Bungkus ketupat yang terbuat dari janur. Secara filosofis, janur memiliki makna yang sangat dalam, yaitu berasal dari bahasa Arab ‘Ja’a Nuurun’. Artinya, telah datang cahaya kebahagiaan, karena telah selesai menjalankan ibadah puasa atau kembali suci di hari Idul Fitri. Masyarakat Jawa memaknainya jatining nur atau hati nurani. Di mana beras dimaknai nafsu duniawi di bungkus dengan hati nurani. Sedangkan bentuk ketupat yang persegi empat makna dari kiblat papat atau mata angin limo pancer (arah kiblat).

Anyaman bungkus ketupat yang sulit saat dibentuk itu mencerminkan kesalahan manusia dari berbagai aspek. Rumitnya anyaman tersebut berakhir mencerminkan kesempurnaan sehingga menjadi akhir dari satu kesatuan atau kompleksitas masayarakat Jawa harus diletakkan dengan tali silaturrahim. Saat ketupat dibelah menjadi dua, tampak warna putih yang bermakna kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampun dari segala kesalahan.

Terdapat banyak makna yang tersirat dalam parade Sewu Kupat ini, di antaranya (1) mengajak manusia sebagai pribadi untuk merenungkan kembali atas apa yang telah dilakukannya selama ini, baik yang berhubungan dengan Allah SWT.  maupun dengan ciptaan-Nya, (2) mengajak manusia untuk selalu beramal dan ikhlas, memohon keberkahan, senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT dan sesama manusia, mengintrospeksi diri, serta melihat segala sesuatu dengan hati yang jernih sebagai langkah awal dalam perbaikan diri pribadi dan peningkatan kesadaran spiritual.

Oleh: Oleh : R. Sholichah, S.Pd.
(Guru SMK Negeri 2 Kudus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *