Fri. May 24th, 2024
AI

Perkembangan teknologi akhir-akhir ini menjadi perhatian seluruh masyarakat (dunia), termasuk kecerdasan buatan (AI). Bagaimana Islam memandang AI tersebut? Dalam kajian ini maka harus dilihat dari berbagai aspek dan tujuan. Jika dalam aspek kebutuhan global masyarakat postmodern era digital dengan tujuan memudahkan segala aktivitas, kebutuhan dan tantangan hidup masyarakat yang berdampak pada efektivitas, efisiensi dan kebermanfaatan secara menyeluruh maka sah-sah saja (diperbolehkan). Dasar ini mengambil konsep ushul fiqih yakni mashlalah mursalah dan maqashid asy-syariah yang menekankan pada kadar kebermanfaatan, efek positif dan juga kadar kemudahan. Artinya, selama itu menggandung manfaat, termasuk hal positif, dan membuat kemudahan maka tidak ada yang salah.

Kecerdasan buatan (AI) menjadi salah (bertentangan) dengan agama Islam manakala digunakan untuk merusak tatanan kehidupan manusia, melawan ketentuan Tuhan bahkan berniat menandingi kekuasaan-Nya. Aspek dan tujuan yang salah (negatif) sudah jelas Islam tidak membenarkan, atau dalam konteks lain tujuan dan aspeknya sesuai tapi pelaksanaannya (implementasinya) disalahgunakan ke arah perbuatan keji, jelas Islam mengharamkan ini. Namun, yang haram tidaklah AI -nya namun oknum dan pelaksanaannya.

Islam sebagai agama yang mendukung adanya kemajuan, keilmuan, kemaslahatan serta kemandirian masyarakat sudah jelas pro terhadap perkembangan IPTEK yang ditujukan untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Tinggal manusia dan negara bisa merespon kemajuan ini dengan baik serta bijak, sehingga bisa beradaptasi dengan mudah. Islam mengajarkan kedinamisan sehingga manusia harus tanggap dan adaptif terhadap segala bentuk perubahan zaman yang kian maju, penyesuaian yang demikian dapat mendorong kemajuan mereka dan peradaban akhirnya bisa diraih.

Kecerdasan buatan (AI) tentunya hadir untuk merespon berbagai kebutuhan dan tantangan hidup manusia yang kian kompleks, sehingga manusia dituntut untuk adaptif dengan tetap mempertahankan nilai-nilai etika beragama dengan bijak. Sisi lain, perkembangan teknologi informasi termasuk kecerdasan buatan (AI) tidak bisa dibendung. Oleh sebab itu, diperlukan sikap dewasa untuk menyikapi dan menerimanya (menggunakannya). Kecerdasan buatan yang bertujuan untuk memudahkan kehidupan manusia sesuai dengan spirit Islam yang selalu mengkampayekan kemudahan bagi manusia dalam setiap kehidupan mereka sebagaimana firman Allah Swt:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ …

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang dikerjakannya…” (QS.Al-Baqarah (02): 286)

…يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. (QS.Al-Baqarah (2):185) .

Dalam konteks memudahkan kehidupan manusia maka Islam mendukung dan tidak ada larangan secara khusus. Pengembangan AI sebagai bentuk kecerdasan akal manusia dan itu wujud syukur manusia dalam menggunakan akal sebagai karunia Allah. Namun, pesan agama mengikat untuk semua, yakni agar tidak terjebak kepada kecanggihan teknologi manusia diharamkan untuk mengagungkan teknologi (AI) melebihi keagungan Allah Swt, kemudian manusia diharamkan (dilarang) untuk menyimpulkan atau memiliki rasa; pemikiran bahwa teknologi sebagai hal yang mampu memenuhi kebutuhannya, hal ini dapat mengikis keimanan kita kepada Allah. Maka seyogyanya kemajuan teknologi beserta kecanggihannya cukup kita nikmati; gunakan sekedarnya saja, dengan tetap mengesakan, mengagungkan Allah sebagai zat pemberi kemajuan berupa akal dan kreativitas; ilmu.

Hal tersebut sangat perlu bagi umat Islam untuk menjaga akidah tetap lurus kepada Allah, tidak terpesona kepada kemajuan IT yang jika tidak diimbangi keimanan yang kuat, dikhawatirkan bisa mentuhankan IT tersebut sehingga muncul pemikiran tidak butuh agama (Tuhan). Pemikiran tersebut sangat mungkin terjadi dalam kehidupan manusia. Agama sebagai pengendali dan petunjuk sudah seharusnya dijadikan pedoman serta landasan atas segala perbuatan, tindakan maupun pembaharuan manusia termasuk proses pengembangan IT. Ketika norma agama dinafikan dalam kehidupan manusia, mereka lebih mengedepankan akal dna keilmuannya maka dapat dipastikan produk yang dihasilkan akan dibersinggungan dengan norma agama baik secara langsung maupun tidak langsung.

Oleh sebab itu, adanya kecerdasan buatan (AI) harus disambut dengan gembira dan tetap melakukan kontrol atas kemajuan dan perkembangannya secara bijak dengan agama sebagai landasan kuatnya. Hal ini bertujuan untuk menselamatkan manusia dari paradigma, sikap hidup, gaya hidup yang memisahkan diri dengan agama yang dapat mensengsarakan mereka ke kemudian hari. Agama menjadi pedoman final sampai akhir kehidupan manusia, dengan demikian apapun termasuk AI harus tunduk patuh di bawah panji-panji agama. Semoga bermanfaat…!

Surabaya, 01 Juli 2023

Oleh: Dr. Muhamad Basyrul Muvid, M.Pd.
Dosen Pendidikan Agama Islam
Universitas Dinamika, Surabaya

Sumber gambar: www.jogjaraya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *