Fri. May 24th, 2024

Moderasi beragama merupakan sebuah konsep beragama secara proporsional dan seimbang yang mampu mengintegrasikan unsur keTuhanan dan kemanusiaan. Moderasi  beragama memberikan penegasan bahwa ketaatan beragama dampaknya bukan saja kepada penguatan sisi spiritual, namun juga sisi sosial. Spiritual dan sosial dalam konteks beragama tidak bisa dipisahkan, dua unsur tersebut merupakan satu kesatuan dalam beragama sebagai tanggungjawab umat manusia (secara agama), dan tugasnya sebagai ciptaan-Nya.

Dalam merespon zaman yang penuh kecanggihan teknologi, ditambah kemajemukan yang ada serta kondisi sosial yang harus dijaga untuk tetap bersatu padu dalam mewarat dan membangun sebuah peradaban bangsa, maka masyarakat atau umat beragama harus memiliki konsep beragama secara tepat. Konsep beragama yang tepat dapat membantu membuka wawasan dan cara pandang yang luas, kontekstual dan holistik. Artinya, wawasan beragama moderat mendidik umat mampu melihat satu hal dari berbagai sisi, sehingga bisa menyimpulkan hal tersebut secara tepat.

Perguruan tinggi sebagai instansi tertinggi dalam lembaga pendidikan mempunyai peran strategis dalam menghasilkan generasi yang mampu meneruskan keberlangsungan hidup secara damai, rukun dan penuh kebersamaan. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi lembaga untuk mendidik kaum intelektual yang cerdas secara nalar, tetapi juga intelektual yang arif dan taat agama. Nalar yang kritis harus didukung dengan kebaikan moral dan kepekaan sosial yang tajam sehingga mampu memberikan sumbangsih kepada kehidupan masyarakat, bangsa dan agama.

Budaya religius bisa lahir dan tumbuh subur apabila terus diperkenalkan, diimplementasikan dan dikampanyekan oleh seluruh civitas akademik kampus itu sendiri sehingga lama kelamaan akan mandarah daging dan menjadi sebuah karakter pribadi individu. Budaya religius yang berupa dialog lintas agama, menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, menghidupkan tempat ibadah untuk kegiatan keagamaan, bakti sosial, doa lintas agama pada sebuah acara, mengunjungi tempat ibadah sebagai sarana edukasi, menghidupkan kajian-kajian agama yang komprehensif dan lain sebagainya. Dengan demikian, maka individu dapat mengenal dan terbuka wawasannya bahwa dalam beragama dikenal dengan takdir (keputusan mutlak Tuhan), seorang yang beriman wajib mempercayai takdir tersebut, salah satu takdir Allah yang tidak bisa dibantah maupun ditolak ialah adanya keberagaman, variasi, kemajemukan antar individu baik ras, suku, agama, warna kulit, bahasa, budaya dan sejenisnya yang tidak bisa disatukan menjadi satu warna (jenis). Keberagaman tersebut ialah sebuah takdir yang tidak bisa ditolak, namun wajib dipercaya, dijaga dan dirawat dengan baik, sehingga kehidupan bisa berjalan dengan damai, harmonis dan teratur.

Dengan demikian, budaya religius sangat perlu diaktualisasikan guna membentuk paradigma yang moderat bagi mahasiswa, dan civitas akademik perguruan tinggi lainnya demi mewujudkan stabilitas kehidupan sosial yang harmonis.

Oleh: Dr. Muhamad Basyrul Muvid, M.Pd.
(Dosen Agama Islam Universitas Dinamika Surabaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *