Surabaya, Juni 2026 adalah sebuah momentum yang tepat untuk ber-muhasabah atas kejadian sosial para praktisi majelis maulid. Sebenarnya, ini sudah terjadi sejak lama. Banyak yang menjadikan event pembacaan maulid, mendatangkan para jama’ah majelis, dan atau grup sholawat al-Banjari, dengan menyodorkan kebutuhan kegiatannya kepada para pengusaha, sultan, hingga mereka yang berduit.
Alhasil, keadaan saat ini menjadi jariyah bagi mereka para pelaksana. Sebut saja beberapa keterangan cerita. Serta cerita ini mutawatir bagi semuanya. Sebenarnya, menurut hemat saya pribadi tidak bermasalah, melainkan juga untuk kemaslahatan umum. Memungkinkan untuk penambahan inventaris majelis yang kedepannya untuk kebutuhan istiqomah disetiap pekan atau bulannya. Namun kejadian ini ternyata untuk diraup dan menambah pundi-pundi kekayaan sendiri.
Apalagi beberapa tahun terakhir, viral-nya gaya maulid ala Sekumpul di Pulau Jawa. Sehingga beberapa pemilik kepentingan mencoba mendatangkan Para Tuan Guru di Pulau Jawa. Mereka sebelum-sebelumnya tidak dikenal di Jawa. Saya teringat, ketika tahun 2016 mengikuti acara Haul Abah Guru Sekumpul, saya sangat jarang menemukan kawanan dari Pulau Jawa. Hampir semuanya adalah orang Kalimantan. Akhir-akhir ini, orang Jawa banyak yang menghadirinya. Karena saking banyak dan viralnya acara tahunan tersebut.
Hal ini menjadi kesempatan emas bagi yang mendapatkan peluang. Beberapa mendatangkan salah satu peyair / munsyid dari Sekumpul, dan atau bahkan salah satu Ulama dari sana, untuk dikelilingkan. Disisi lain, kami tidak menyalahkan para Ulama atau Munsyid atau Penyairnya yang didatangkan. Karena beliau tidak mengetahui apa-apa. Melainkan, dibalik acara dan kedatangannya, terdapat satu hingga beberapa proposal yang disodorkan kepada para pembesar, pejabat, orang kaya, dengan alasan mengadakan acara, kebutuhan yang berpuluh-puluh juta, karena mendatangkan Ulama luar pulau, Penyair / Munsyid dari luar pulau dan viral. Sehingga mereka meraup banyak sumbangan dari mereka. Namun akhirnya? Laporan LPJ dari kegiatan tersebut, kegiatan acara yang diadakannya kebutuhannya jauh dari harga tersebut. Bahkan, uang kembalian sangat diraup banyak untuk masuk di dalam kantongnya.
Keresahan para pengungkap ini perlu kami utarakan untuk para muhibbin, para pecinta salawat, melek dan mengetahui fenomena sosial yang ada. Gunanya apa? Pertama, bagi para donatur, cerdaslah dalam bersedekah. Jangan sampai tidak mengetahui detail kebutuhan kegiatannya. Sehingga dengan mudah untuk mengeluarkannya demi mendapatkan penghormatan dan nama yang melambung tinggi. Kedua, kegiatan ceremonial yang hanya bersifat insidentil itu sebenarnya sangat bisa disederhanakan. Kenapa sih kalian itu mengejar kemegahan acara saja? Padahal aktivitas yang istiqomah/ kontinu itu kan lebih mulia daripada ribuan karomah/ kemuliaan? So … Untuk apa kedepannya? Hanya untuk nama beken? Ketiga, kalau kalian memang mencintai Abah Guru Sekumpul, jangan sekali-sekali berniat untuk menjadikan kegiatan majelis maulid, majelis pembacaan Al-Qur’an, hingga acara keagamaan yang sejenisnya sebagai proyek untuk meraup kekayaan pribadi lah … !!! Abah Guru tidak rela dengan hal itu. Sering Abah Guru menjeaskan tersebut. Kalau ingin kaya? Ya berdagang !!!, berusaha !!!, Bekerja !!!.
Jangankan seperti itu, salah satu Guru yang memiliki suara merdu, beliau pembaca Al-Qur’an, selalu tidak absen dalam ajang MTQ, secara langsung diajak oleh Abah Guru untuk fokus langsung di Musholla Ar-Raudhah untuk mengikuti rutinan maulid. Membaca Al-Qur’an sebelum maulid dibacakan. Ini artinya, harga daripada Al-Qur’an, tidak bisa dijual dan ditukarkan dengan nilai apapun.
Wibawa maulid, wibawa Al-Qur’an, wibawa Sholawat, perlu kita menaruh setinggi-tingginya diatas kepala. Sudah saatnya, kalau kalian ingin menghidupkan maulid simthudduror, menghidupkan maulid, ramaikanlah majelis-majelis yang sudah lama ada. Tidak harus mengundangnya dirumah karena hanya ingin dan disawer dengan bisyaroh besar. Apa bedanya dengan “biduan” kalau kamu melakukannya seperti itu?
Sehingga … berilah bisyaroh sepantas mungkin. Yang menjadi perantara, berilah sebagaimana yang diberikan oleh sohibul hajat. Lebih ramaikanlah lagi beberapa majelis yang sudah ada dan sudah istiqomah lama di daerah tersebut. Sebagaimana Majelis Ahad ke-4 di Masjid Al-Mubarok Berbek Dalam, Waru, Sidoarjo. Majelis Maulid Simthudduror Korcam Waru, Majelis Rutinan Malam Senin di Musholla Ar-Raudhah, Sekumpul, Martapura, Majelis Maulid Malam Jum’at di Masjid Riyadh Solo. Lebih ramaikan. Tasharrufkan hartamu di tempat-tempat yang kami rekomendasikan tersebut. Entah dengan membawakan berupa barang, memenuhi kebutuhan majelis tersebut. Hingga memberikan secara langsung bisyaroh kepada beliau yang di tua-kan/ sohibul hajatnya. Nggak perlu lagi melalui perantara, ring 1 atau tangan kanan lagi. Karena pada hakikatnya beliau-beliau itulah tangan kanan langsung dari Rasulullah Saw. Seharusn
Oleh: Dr. H. Alaika M. Bagus Kurnia PS, M. Pd.
